FURKAM SATRIAWAN
Sejak berdiri tanggal 9 september 2001, partai Demokrat mendapat
respon positif dari masyarakat Indonesia. Dengan menjual figure Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY), partai ini berhasil merebut hati masyarakat
Indonesia dengan menghantarkan SBY sebagai Presiden pertama yang
terpilih dalam pemilihan langsung tahun 2004. Dengan menggandeng Jusuf
Kalla (JK), pemerintahan SBY-JK konsisten memberantas korupsi di
republik ini. Tidak tanggung-tanggung, di era pemerintahan SBY-JK
berdiri sebuah lembaga anti korupsi bernama Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK).
Keberadaan KPK ini sontak membuat para koruptor sulit bernafas legah.
Pasalnya, semenjak disahkannya lembaga ini oleh Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) pada tanggal 19 Desember 2003, banyak kasus korupsi kelas kakap
yang terkuak ke permukaan. Sebagai program kerja 100 hari SBY, KPK
menjadi program andalan SBY dalam mengawal detik-detik pertama
pemerintahannya.
Konsistensi SBY dalam mengawal pemerintahan yang bersih ternyata
menjadi boomerang bagi partainya sendiri. Identik dengan partai
anti-korupsi, partai yang berlambang 3 bintang bersinar ini ternyata
menjadi sarang beberapa koruptor kelas kakap.
Diawali kicauan mantan bendahara umum partai demokrat, beberapa kasus
korupsi mulai terkuak ke permukaan. Seperti kasus proyek APBN Hambalang
dan wisma atlet. Kedua kasus ini menyeret beberapa elit partai demokrat
seperti Nazaruddin (Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat), Angelina
Sondakh (Wasekjen partai Demokrat), Andi Mallarangen (Dewan Pembina
Partai), serta Ketua Umum Anas Urbaningrum juga dikabarkan terlibat
dalam kasus ini.
Alangkah sangat lucunya partai ini. “Katakan Tidak Untuk Korupsi”
sebagai Jargon partai yang pernah tayang berkali-kali di seluruh stasiun
TV nasional, yang salah satu bintang iklannya adalah Angelina Sondakh
yang sekarang menjadi tersangka kasus proyek APBN wisma atlet ini seakan
menjilat ludah sendiri. Apa yang menjadi jargon mereka ternyata hanya
bualan besar semata. Jargon ini seakan sebagai jargon perisai untuk
menutupi wujud asli para koruptor yang bersarang di tubuh partai
Anti-korupsi mereka.
Apa sebenarnya yang terjadi di dapur demokrat? Mengapa konsistensi
sebagai partai bersih harus tercoreng dengan kader-kader yang menjadi
maling berdasi? Kesalahan tentunya tidak bisa dilimpahkan seluruhnya
kepada partai dan ketua dewan Pembina (SBY), tapi ini menunjukkan tidak
becusnya partai mendidik kader-kadernya dalam berpolitik bersih,
bukankah orang bijak mengatakan bahwa “didiklah anak-anakmu dengan baik
karena mereka adalah tanggung jawabmu.” Begitupun dengan Demokrat,
seharusnya SBY mendidik kader-kadernya untuk tetap berada pada jalur
yang benar karena itu adalah tanggung jawabnya. Sangat ironi dan
kontradiksi sekali mungkin jika seorang Ayah menasehati anak-anak orang
lain untuk tidak nakal, sedangkan anak-anaknya sendiri berulah.
Begitupun dengan SBY, beliau seharusnya malu berpidato mengenai
pemerintahan yang bersih di muka umum, sedangkan kendaraan politiknya
sendiri dihuni oleh para koruptor.
Sebagai partai berlabel anti korupsi, seharusnya memiliki kader-kader
yang bersih pula. Oleh sebab itu, jika ada kader diduga tersangkut
kasus korupsi, maka penonaktifan adalah cara terhormat dalam
menyelamatkan citra partai. Dan Demokrat seharusnya melakukan itu. Bukan
berarti demokrat mengabaiakan hukum. Ini hanya menyangkut masalah nama
baik partai. Toh jika setalah melalui proses hukum dan terbukti tidak
bersalah, justru akan bisa mencuci nama partai yang sempat kotor, bukan?
Namun entah apa sebenarnya yang menjadi pertimbangan partai Demokrat
sehingga sampai detik ini, nama-nama yang terkuak seperti Anas
Urbaningrum dan Andi Mallarangeng belum juga digulingkan sementara dari
struktur kepengurusan. Padahal pro-kontra di dalam tubuh partai pun
mulai santer terdengar. Banyak elit partai yang menginginkan semua kader
yang diduga terlibat kasus korupsi untuk dinonaktifkan, namun tidak
sedikit pula yang tetap membela mereka
Menurut Adnan Buyung Nasution, Ranah politik tidak bisa
dicampuradukkan dengan ranah hukum. Karena itu, penonaktifan petinggi
partai politik tidak perlu menunggu proses penetapan sebagai tersangka.
Adnan juga mencontohkan, nama Ketua Umum Partai Demokrat Anas
Urbaningrum berulang kali muncul dalam keterangan persidangan mantan
Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, terdakwa kasus
dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011 di Palembang. Karena
itu, baik Anas maupun kader Partai Demokrat lain semestinya segera
dinonaktifkan tanpa menunggu proses penetapan sebagai tersangka.
Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu dan memegang
pemerintahan saat ini harus memberikan teladan dalam memberantas
korupsi. Partai itu harus tegas dan mendorong siapa pun elite pengurus
yang diduga terlibat kasus korupsi untuk diproses hukum. Namun
realitanya, borok yang ada dipartai ini terkesan ditutup-tutpi sehingga
saat terungkap, baunya langsut menyengat.
Jika demokrat masih ingin mengulang masa keemasannya seperti
pemilihan presiden sebelumnya, maka pencitraan partai perlu dilakukan.
Saya rasa Demokrat adalah partai yang sangat piawai dalam membangun
citra politik. Demokrat pasti memiliki langkah-langkah dalam membenahi
nama baiknya, dan langkah terjitu untuk saat ini adalah dengan menindak
tegas setiap kader yang terdeteksi telibat korupsi.
Demokrat seharusnya sadar diri akan popularitasnya saat ini, survei
terakhir menunjukkan kemerosotan yang cukup drastis di bawah rival-rival
partainya (Golkar dan PDI Perjuangan). Terlebih tidak ada lagi figur
calon presiden yang bisa Demokrat jual.
Saya bisa memprediksikan jika Demokrat tidak konsisten dengan
pemberatansan korupsi dan atau Kasus wisma atlet terus berlanjut, maka
Demokrat akan tidak bisa berbicara banyak pada pemilihan legislatif,
apalagi pada pemilihan Presiden tahun 2014. Kepercayaan maysarakat akan
kredibilitas partai ini akan menurun. Terlebih tidak ada figur calon
presiden yang dipublikasikan hingga sekarang.
Sebenarnya, masalah manipulasi korupsi tidak hanya terjadi di partai
Demokrat saja, namun setiap partai pernah mengalami hal yang serupa.
Oleh karena itu, kasus di partai Demokrat hendaknya menjadi pelajaran
bagi setiap partai untuk kembali kepada tujuan awalnya, yaitu bagaimana
bisa menjadi partai yang bisa menjaga amanah rakyat Indonesia, bukan
malah menjadi beban rakyat. Malu dong sama rakyat, sudah digaji oleh
pajak yang dikeluarkan rakyat, malah menghianati rakyat.
Setap partai juga perlu mempertimbangkan untuk mengeluarkan jargon
“Katakan Tidak Untuk Korupsi”. Jangan sampai malah menjadi boomerang
bagi partainya ketika konsistensi itu mulai goyah. TERIMAKASIH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar